15
15
KERAJAAN BINAMU: Sebuah Catatan Singkat
Pada tulisan terdahulu diceritakan bahwa setelah persekutuan KARE di Turatea berhasil memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Gowa, dan setelah Kerajaan Binamu terbentuk berkat dari hasil kesepakatan dengan Sombayya Ri Gowa, maka persoalan yang tersisa tinggal satu, yaitu siapa kira-kira yang pantas memakai mahkota pertama Kerajaan Binamu.
Oleh karena itu, Kare Layu
sebagai ketua dari tujuh persekutuan ke-kare-an segera mengutus Boto
Cabiri dan Boto Jombe untuk mencari calon raja sesuai dengan persyaratan
yang telah ditentukan. Mula-mula mereka di suruh ke Boyong, setelah itu
ke Balang, kemudian ke Tolo’ dan Rumbia, dan terakhir di Manynyumbeng.
Sesuai
hasil penilaian para utusan, empat tokoh dari empat tempat yang
didatangi pertama yakni Boyong, Balang, Tolo, dan Rumbia, tidak bisa
menjadi Raja di Binamu karena caranya menghadapi tamu yang kurang
bijaksana dan cenderung tergesa-gesa. Maka pilihan jatuh pada Gaukang
Dg. Riolo, tokoh dari Manynyumbeng yang berbudi pekerti luhur, dermawan,
berjiwa besar, agak pendiam, dan sabar dalam menghadapi setiap problema
yang dihadapinya.
Setelah segala sesuatu yang berhubungan dengan acara pelantikan “kakaraengan”
sudah dipersiapkan secara matang, maka dijemputlah Gaukang Dg Riolo di
kediamannya untuk dibawa ke Layu menjalani prosesi pelantikan raja
sesuai prosedur yang sudah disepakati. Hadir pula beberapa undangan
dalam acara tersebut yakni Raja Gowa, Raja Luwu, Raja Suppa, dan Raja
Bone, serta tokoh-tokoh dari tujuh persekutuan ke-kare-an di Turatea
bersama rakyatnya. Acara pelantikan berjalan selama tujuh hari tujuh
malam.
Sekedar
diketahui bahwa Gaukang Dg Riolo sebenarnya adalah salah seorang
keturunan dari Pari’ba Dg Nyento. Beliau putra dari anak Pari’ba yang
kawin ke Manynyumbeng. Artinya, beliau tidak lain adalah salah seorang
cucu Pari’ba selain cucu-cucunya yang lain yang tersebar di Boyong,
balang, Tolo, dan Rumbia. Oleh karena itu, dilihat dari segi keturunan
dan status sosial di Turatea, beliau memang pantas menduduki takhta
Kerajaan Binamu, dan tentu saja didukung dengan sikap dan kepribadian
yang luhur dan bijaksana.
Setelah
pelantikan Gaukang Dg Riolo usai, maka serta merta berakhirlah bentuk
pemerintahan KARE di Turatea dan dimulailah pemerintahan Kerajaan
BINAMU. Sebagai raja pertama, beliau diberi gelar “KARAENG LOMPOA RI
BINAMU” (Maha Raja Binamu).
Sebagai langkah awal dalam pemerintahannya, beliau membentuk beberapa lembaga untuk mendukung kerajaannya diantaranya:
- Lembaga Pertahanan Kerajaan (panglima perang): Daenta Bonto Tangnga
- Lembaga Pengadaan Pangan (ekonomi): Daenta Balumbungan
- Lembaga Kesejahteraan/Sosial: Gallarang Embo
- Dewan Penasehat (Agama): Boto Cabiri
- Dewan Hakim: Boto Jombe
Selain
itu, Gaukang Dg Riolo juga mengadakan beberapa perubahan istilah, dari
Daenta dan Gallarang menjadi Karaeng, tetapi tugas dan kedudukannya
tetap sama. Seperti: Daenta Bonto Tangnga diubah menjadi Karaeng Bonto
Tangnga, Daenta Bontoramba menjadi Karaeng Bontoramba, Gallarang Paitana
menjadi Karaeng Paitana, dan sebagainya.
Kerajaan Binamu memiliki beberapa kerajaan bawahan (karaeng palili’), diantaranya:
- Gallarang di Balang
- Karaeng di Tolo’
- Karaeng di Paitana
- Karaeng di Empoang
- Karaeng di Bontoramba
- Karaeng di Balumbungan, dsb…
Untuk Kerajaan Arungkeke,
Tarowang, dan Bangkala, ketiganya merupakan kerajaan tersendiri yang
otonom sejajar dengan kerajaan Binamu di Butta Turatea. Mereka tidak
saling membawahi tapi tetap saling berinteraksi dan saling berbagi
karena faktor kesamaan bahasa, budaya, tradisi, dan adat istiadat satu
sama lain.
Adapun raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Binamu secara berturut-turut adalah sebagai berikut:
- Raja ke 1 : Gaukang Dg Riolo (memerintah tahun 1607 M-1631 M)
- Raja ke 2 : Bakiri Dg Lalang (memerintah tahun 1631 M-1660 M)
- Raja ke 3 : Paungga Dg Gassing (memerintah tahun 1660 M-1678 M)
- Raja ke 4 : Datu Mutara (memerintah tahun 1678 M-1696 M)
- Raja ke 5 : Lapalang Dg Masse (memerintah tahun 1696 M-1713 M)
- Raja ke 6 : Patakkoi Dg Ngunjung (memerintah tahun 1713 M-1731 M)
- Raja ke 7 : Jakkolo Dg Rangka (memerintah tahun 1731 M-1747 M)
- Raja ke 8 : Pa’dewakkang Dg Lurang (memerintah tahun 1747 M-1763 M)
- Raja ke 9 : Ironggo Dg Bani (memerintah tahun 1763 M-1780 M)
- Raja ke 10 : Sanre Dg Nyikko (memerintah tahun 1780 M-1796 M)
- Raja ke 11 : Bebas Dg Lalo (memerintah tahun 1796 M-1814 M)
- Raja ke 12 : Badullah Dg Tinggi (memerintah tahun 1814 M-1834 M)
- Raja ke 13 : Palanrangi Dg Liu (memerintah tahun 1834 M-1852 M)
- Raja ke 14 : Patima Dg Sakking (memerintah tahun 1852 M-1869 M)
- Raja ke 15 : Itia Dg Ni’ni (memerintah tahun 1869 M-1884 M)
- Raja ke 16 : Mattewakkang Dg Jungge (memerintah tahun 1884 M-1900 M)
- Raja ke 17 : Sanre Dg Nyikko (memerintah tahun 1900 M-1911 M)
- Raja ke 18 : Langke Dg Lagu (memerintah tahun 1911 M-1921 M)
- Raja ke 19 : Ilompo Dg Radja (memerintah tahun 1921 M-1923 M)
- Raja ke 20 : Maggau Dg Sanggu (memerintah tahun 1923 M-1929 M)
- Raja ke 21 : Mattewakkang Dg Radja (memerintah tahun 1929 M-1946 M)
Demikian
susunan raja-raja di kerajaan binamu mulai dari pertama kali terbentuk
hingga berakhirnya kerajaan binamu itu sendiri. Wassalam. <joe>
Artikel Lainnya:
jarah Turatea
rba Makassar
- Terjemahan Surah Al-Fatihah Dalam Bahasa Makassar
- Asal Usul Aksara Lontara
- Kisah Cinta I Taro Ana’ Kunjung Barani dengan I Samindara Baine
- KERAJAAN BINAMU: Sebuah Catatan Singkat
- TODDO APPAKA: Dewan Adat Kerajaan Binamu
- ASAL MULA KERAJAAN BINAMU (Bag. 4 Habis)
- Kisah Cinta DATU MUSENG Dan MAIPA DEAPAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar